BERTANI ITU KEREN: KEGIGIHAN MAYA SCOLASTICA DALAM MELAHIRKAN GENERASI MUDA DI DUNIA PERTANIAN
Petani adalah pahlawan. Pernyataan itu
benar adanya, karena nyatanya manusia tidak akan hidup tanpa adanya petani.
Barang-barang yang kita pakai setiap harinya ada karena kerja petani. Seperti
meja, buku, pensil, pakaian dan masih banyak lagi. Bahkan makanan yang kita
santap setiap harinya ada karena jasa para petani. Dibalik fakta tersebut,
namun petani di Indonesia sering kali dipandang sebagai pekerjaan yang rendah,
padahal peran petani sangat besar untuk keberlangsungan hidup dalam suatu negara
bahkan dunia. Bekerja sebagai petani juga kerap kali dianggap sebagai pekerjaan
yang kurang menjanjikan. Anggapan ini benar adanya, karena di Indonesia penghasilan
seorang petani pada umumnya tergolong kecil dan terkadang tidak setimpal dengan
usaha yang telah dikerahkan untuk terus merawat kebun atau lahan yang dipunya.
Hal ini kerap terjadi tak lain karena sistem yang diciptakan oleh masyarakat
luas dan pemerintah dimana pemerintah lebih memilih untuk mengimpor bahan
pangan dibanding mengonsumsi pangan lokal hasil panen petani di negeri sendiri.
Sudah seharusnya, pemuda Indonesia
sebagai generasi penerus sadar akan fenomena ini. Fenomena dimana kesejahteraan
petani yang notabene sangat penting untuk negara sangatlah kurang. Jumlah
petani di Indoenesia-pun juga kian menyusut karena pandangan yang mengatakan
bahwa pekerjaan petani ialah pekerjaan rendah dan tidak menjanjikan. Data dari
Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan jumlah petani, dimana pemuda dengan
rentang usia 16-30 tahun yang bekerja sebagai petani pada tahun 2017 sebesar
20,79 persen menyusut menjadi 18 persen di tahun 2022. Sebagai generasi muda seharusnya kita mencari
cara bagaimana agar pekerjaan sebagai petani bisa menjanjikan dan meningkat
seiring dengan kemakmuran petani. Seperti yang dikukan oleh Maya Scolastica penggagas
Twelve’s Organic
Maya Scolastica Boleng ialah lulusan
Sastra Inggris di Unesa (Universitas Negeri Surabaya). Ia adalah orang dibalik Twelve’s Organic
yang tidak hanya berbisnis di bidang pertanain namun juga gencar mengedukasi
anak muda untuk bertani. Kegiatan positif ini mulai Kak Maya jalankan tahun
2008 bersama sahabatnya Herwita Rosalina atau Kak Wita. Kak Maya lahir di Larantuka,
Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya pada tanggal 11 Juni 1985.
Kak Maya sudah melalui perjanan panjang hingga ahirnya berani untuk mendirikan Twelve’s Organic.
Twelve’s Organic ialah sebuah bisnis pertanian yang
menghasilkan berbagai jenis buah, sayur, dan umbi-umbian untuk dipasarkan di
masyarakat. Hal mengesankan dari Twelve’s Organic ialah selain menjalankan
bisnis tetapi Kak Maya sebagai founder juga menjalankan program dimana beliau
mengajari masyarakat terutama kaum muda untuk bertani. Keberhasilan Twelve’s
Organic ini tentu telah melalui perjalanan yang panjang.
Berikut ialah perjalanan Kak Maya Scolastica menemukan passion dan
meraih impiannya melalui Twelve’s Organic:
·
Langkah awal masuk dunia
pertanian
Kegiatan Kak Maya di Twelve's Organic
Ketertarikan Kak Maya kepada dunia pertanian sebenarnya sudah ada sejak kecil, namun diurungkan karena menuruti kemauan orang tuanya untuk mengenyam pendidikan di jurusan Sastra Inggris. Akhirnya tekadnya kembali bermula pada saat dia berkunjung ke Bali. Pada saat itu tepatnya tahun 2007 untuk mengisi liburan semester Kak Maya berkunjung ke Bali. Disanalah ia bertemu dengan guru yoga yang memperkenalkan tentang pertanian organik dan mempertanyakan mengenai apa yang telah Kak Maya dan teman-temannya lakukan untuk masyarakat dan lingkungan sekitar. Karena pada saat itu Kak Maya dan teman-temannya belum bisa menjawab pertanyaan terkait kontribusi mereka untuk masyarakat, dari situlah Kak Maya dan teman-temannya bertekad untuk bertani organik dan direalisasikan di 2008. Kak Maya dan teman-temannya yang saat itu masih bestatus sebagai mahasiswa menyewa sebuah lahan berukuran setengah hektar di kawasan Desa Telaket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto untuk mulai terjun ke dunia pertanian.
Kak Maya beserta beberapa
temannya berbekal uang hasil berjualan pulsa dan gaji menjadi guru bimbel
memberanikan diri untuk menyewa lahan dan bertani dengan petani yang ada di
sekitar. Masa
awal merintis karir di dunia pertanain tentu tidak mudah, dimana Kak Maya saat
itu belum mempunyai ilmu yang cukup menganai dunia pertanian dan harus belajar
melalui internet. Namun, di tahun pertamanya terjun di dunia pertanian
Kak Maya dan teman-temannya harus menelan kegagalan karena panen mengalami
kerugian besar, sehingga membuat rekan-rekannya memilih untuk mengundurkan
diri. Modal yang mereka kumpulkan
bersama-pun ludes seketika, bahkan harus berhutang. Pada saat itu, modal
yang terkumpul habis untuk sewa lahan, buka lahan, membeli pupuk, dan untuk
membayar para petani yang dipekerjakan. Kegagalan ini disebabkan karena Kak Maya dan
teman-temannya tidak mampu memasarkan 1,2 ton hasil panen caisim, sehingga
terbuang begitu saja. Mereka juga belum mempunyai pengetahuan penuh mengenai
dunia pertanian.
Setelah peristiwa kegagalan
itu, Kak Maya kembali ke Bali untuk bekerja di sebuah perusahaan biro
perjalanan dan pariwisata. Akan tetapi selang 6 bulan bekerja, Kak Maya
membulatkan tekadnya untuk kembali bertani dan mengejar impiannya walaupun
keluarganya khawatir lanataran ingin Kak Maya meneruskan karir sesuai dengan
jurusan kuliahnya.
· Mendirikan Twelve’s
Organic
Kenapa Twelve’s Organic?
Berdasarkan penuturan dari Kak Maya, bisnis ini pada awalnya, tepatnya tahun 2008 bernama Kembang Organic Farm, karena pada saat itu yang menjalankan bisnis ini berjumlah 5 mahasiswi sastra inggris termasuk Kak Maya. Namun karena mereka gagal di tahun pertama, membuat beberapa teman Kak Maya mengundurkan diri. Lalu bangkit kembali sebagai second hero start bagi dua orang tersisa yaitu Kak Maya dan sahabatnya Kak Wita dengan nama Twelve’s Organic, yang memiliki kepanjangan Two Wealth Vegetables Supply Organic dengan arti “Dua Kemakmuran dari Hasil Mensuplai Sayur”.
Keseruan menanam sayuran bersama pengujung
Sumber gambar: Instagram Twelve’s Organic
Hasil tani dijual ke
supermarket lalu merambah menjadi pemasok sayur, buah , dan bumbu dapur organik
ke hotel-hotel setelah setahun dijalankan, tepatnya tahun 2013. Seiring dengan
berjalannya waktu Kak Maya mulai berpikir untuk memperluas pemasaran hasil
taninya melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook. Dari
sinilah Kak Maya mulai berpikir untuk membentuk ekosistem baru pertanian,
dengan mangadakan kegiatan edukasi mengenai pertanian. Beliau menjadikan lahan
pertaniannya sebagai pasar swalayan, dimana masyarakat bisa datang untuk
melihat-lihat bahkan menanam secara langsung. Twelve’s Organic juga memberikan edukasi
mengenai pertanian organik melalui kursus eksklusif. Hal ini dilakukan agar
petani bisa lebih mandiri dan mempunyai pasar sendiri, karena fenomena yang
terjadi pada petani umumnya ialah para mereka harus merelakan hasil taninya dihargai
dengan sangat rendah karena permintaaan tengkulak. Untuk itu Kak Maya bertekad
agar petani bisa mandiri mendobrak sistem mendarah daging yang sudah ada sejak
dulu.
·
Tantangan
selama menjalankan Twelve’s Organic
Kak Maya dan sahabatnya Kak Wita
Sumber gambar: sinartani
Tentu tidak mudah untuk meniti karir dari awal
sebagai petani. Banyak halang rintang yang telah dilewati oleh Kak Maya. Beliau
pernah direndahkan oleh keluarga terdekat dengan mempertanyakan tujuannya bersekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk
jualan sayur. Kak Maya dan sahabatnya juga sering dikira takut bersaing di
dunia kerja.
Terhitung tiga kali Maya mengalami kegagalan dalam bisnis pertanian organik. Bahkan Maya harus menahan lapar karena tidak makan dan terpaksa berpuasa karena saldo menipis terpakai untuk usaha pertanian organik. Seperti pada tahun 2014, uang bisnis mereka habis tinggal 1 juta karena salah menjalin kerja sama denga orang. Namun dengan kegigihan Kak Maya dan sahabatnya, mereka kembali bangkit hingga bisa menggarap 13 kebun dengan memperdayakan 13 ibu-ibu rumah tangga dan 1 laki-laki. Total kebun yang mereka garap sebesar 1,5 hektare, yang menghasilkan 70 jenis buah, sayur, dan umbi-umbian. Seperti sawi, bayam merah, selada hijau dan merah, romen hijau dan merah, penino, kenikir, ketela ungu, kuning dan oranye. Ada pula mbote, ganyong, singkong, bayam raja, labu siam, kentang, mocaf, timun, jagung, siomak, sawi putih, brokoli, terong, tomat, pokcoy, wortel, seledri, pagoda, beetroot, kale, lemon, serai dan caisim. Sedangkan untuk bauh-buah fokus pada 4 jenis yaitu stroberi, rasberi, mulberry dan blackberry. Kini konsumen tersevbar di Malang, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Situbondo, Jakarta, Tangerang dan Bogor.
Selain memasok ke hotel-hotel, Twelve’s
Organic juga memasok hasil panen mereka ke 1200 rumah tangga yang telah menjadi
pelanggan tetap. Setiap hasil panen akan dikirim ke pasar swalayan dan ke rumah
pelanggan, dimana setiap pengirimian bisa mencapai 70-80 kilogram.
· Kegigihan dan Pertumbuhan
Twelve’s Organic
Proses edukasi masyarakat dan pengujung di Twelve’s Organic
Setelah berjuang bertahun tahun Kak Maya mampu menumbuhkan Twelve’s Organic.
Hingga sudah mampu menyewa sekitar tujuh titik
lahan di Mojokerto Jawa Timur. Twelve’s Organic organik
juga memiliki 25 petani sayur dan buah yang terbagi menjadi dua kelompok, yakni
yaitu Kelompok Petani Madani yang fokus kepada sayuran, serta
Kelompok Petani Swadaya yang lebih fokus menanam raspberry dan blueberry serta
pembuatan pupuk organik
· Kiprah dalam membentuk
petani muda
Kak Maya sebagai penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 bidang lingkungan, dan hadir di Kompasfest Navigate dalam Conference “Anak Bangsa Pembuat Perubahan”
Dengan perjuangan dan prestasi Kak Maya di bidang pertanain mengantarkan beliau untuk mendapatkan penghargaan Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia pada tahun 2016. Dirinya juga meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan. Meski begitu, Kak Maya tetap rendah ahti dan terus membuka kelas khusus bagi mereka yang ingin belajar mengenai ilmu budi daya organik, penghitungan harga, dan praktek penjualan hasil panen untuk para petani.
Semakin ke sini Kak Maya
sadar bahwa jumlah petani di Indonesia makin menurun. Menurut beliau kondisi
ini terjadi karena profesi petani masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan
masyarakat. Stigma masyarakat kerap mengatakan bahwa petani ialah pekerjaan
rendahdan dan tidak menjanjikan. Berbalik dengan hal itu justru Twelve’s Organic membuktikn bahwa
bekerja di bidang pertanian bisa menjanjikan dibuktikan dengan Twelve’s Organic
yang bisa penen hingga 2 kali dalam sepekan, dimana dalam sekali panen bisa
mendapatkan 20kg berbagai jenis sayuran.
Kak Maya memiliki harapan
besar kepada kaum muda, terlebih jika mereka mempunyai kemampuan manajemen dan
komunikasi yang baik sehingga bisa mendapatkan pelanggan yang lebih luas.
Bahkan berbekal besarnya passion Kak Maya dibidang pertanian selain mendampingi
anak-anak muda di Pacet dan Jombang, beliau juga mempunyai mempunyai kelompok
tani yang beranggotakan ibu-ibu muda.
Harapannya petani-petani muda tersebut bisa meneruskan ilmunya ke
anak-anak muda lainnya.
Secara total ada 5 kelompok tani yang diajak Kak Maya untuk bertani organik. Namun hanya 2 dari 5 kelompok yang aktif dan benar-benar serius menekuni dunai pertanian dengan jumlah orang 85. Kedua kelompok itu ada di Jombang dan Mojokerto. Meskipun begitu Kak Maya tetap memberi pembelajaran dan pemahaman terhadap 3 kelompok lain yang belum serius. Kak Maya merasa gembira ketika lahir petani-petani muda mengingat pada saat awal beliau merintis karir, anak-anak muda sama sekali tidak tetarik pada dunia pertanian, bahkan membicarakan tentang pertanian mereka tidak tertarik.
Merayakan hari tani bersama para pekerja yang mayoritas perempuan
Sumber: Instagram Twelve's Organic
Selain bertekad besar dalam
melahirkan banyak petani muda Kak Maya juga gencar dalam mengampanyekan kekuatan
perempuan dalam dunia bekerja termasuk bertani. Setiap pagi beliau pergi ke
kebun bukan hanya untuk sekedar mengurus tenaman tetapi juga untuk mengajar ibu-ibu
petani. Meskipun pada awalnya beliau mnegalami kesulitan karena masih muda
terlebih lagi sebagai perempuan yang kerap dianggap sebelah mata, tetapi Kak
Maya berpesan kepada perempuan Indonesia untuk tidak pernah merasa terkendala
hanya karena gender. Perempuan harus berani membuat gebrakan yang luas biasa.
Pesan Kak
Maya untuk petani muda di Indonesia saat ini “ Jangan pernah ragu untuk menjadi
petani, khususnya petani organic. Karena pertanian organik memiliki tiga isu penting
bagi kehidupan manusia. Yang pertapa pangan, kemudian kesehatan dan lingkungan.
Sehingga mereka yang rela berprofesi sebagai petani menyediakan dan mencukupi
kebutuhan manusia. Karena apapun profesi yang ada di dunia pasti membutuhkan
petani.”
Begitulah kisah,
jerih payah dan pesan Kak Maya untuk berkarir di dunia pertanian dan melahirkan petani muda di Indonesia.
SUMBER REFERENSI
Wawancara secara online dengan Maya Scolastica
https://www.kompas.id/baca/sosok/2018/05/21/maya-skolastika-mencetak-petani-muda
https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2023/03/10/petani-muda-kian-beringsut
https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/petani-organik-milenial-dari-flores/
https://www.myedisi.com/sinartani/2888/7650/maya-dan-herwita-bisnis-sayur-organik-karena-cinta

Komentar
Posting Komentar