CERPEN: Menyeramkan, Mati? Jangan

 Menyeramkan, Mati? Jangan 

Merisa Rahayuningtyas 

    Kubuka mataku, silau dengan cahaya yang telah menerobos celah-celah ventilasi. “Arghh lagi-lagi ini pagi yang buruk.” Gumamku. Suasana hati sudah tidak baik-baik saja karena dihadapkan dengan fakta bahwa aku bangun terlambat. Segera beranjak dari kasur, berdiri, kuhampiri pintu, segera membukanya, lalu mandi seadanya. Kuhirup udara sedalam mungkin, menghadap cermin dan menyentuh cekungan di bawah mata yang sembab karena tangisan semalam. Terekam kembali peliknya derita yang semalam kutangisi.  Ini aku, Kaniya. Seorang gadis SMA, yang sedang merasa hidupnya tidak berguna, sia-sia, mati saja! Terlampau lebay memang anak ini. Sering kali aku mengutuki diri sendiri, betapa lemahnya diri ini, seharunya aku tidak serapuh ini, seharusnya aku bisa lebih kuat lagi. “Tapi kenapa? Kenapa, rasa-rasanya ingin menyerah saja? Atau bahkan menyudahi segalanya?” Segera kubuyarkan pikiran-pikiran rumit itu sebelum bendungan air mata menyebalkan ini jatuh lagi dan lagi. Setelah mengambil tas, bergegas menaiki motor untuk tancap gas ke sekolah.  

    Sampai di sekolah, berusaha menciptakan senyum di balik helm yang sedikit gelap namun cukup transparan ini. Aku harus terlihat baik-baik saja. Menyusuri lorong sekolah, terasa berat. Sangat berat. Tetap berusaha melengkungkan bibir ke atas kepada beberapa teman yang menyapa. Aku rasa mereka baik. “Kok mereka bisa baik-baik saja? Bagaimana mereka bisa bertahan di dunia ini? Tapi, jangan-jangan mereka jahat? Apakah mereka juga merasakan hal yang sama denganku?” Aku rasa aku sudah kehilangan separuh kewarasanku. Eh, janganjangan. Mungkin seperempat? Separuh kebanyakan. Buktinya aku masih bisa bertahan. Kutatap sepatu dengan warna yang sudah sedikit usang, berusaha menyembunyikan wajah sembabku. Kuhirup nafas dalam-dalam untuk persiapan mengangkat kepala lagi, baranag kali ada yang menyapa.  

    Kulihat sekeliling, pinggir kanan kiri. Semuanya tampak bahagia. Seorang teman bernama Tania. Hidupnya terlihat sangat-sangat bahagia. Bagaimana tidak? Cantiknya bias dikatakan di atas rata-rata. Tubuh ideal dengan kaki jenjangnya. Ditambah dengan keaktifannya dalam kegiatan OSIS membuat dia dikenal dengan sebutan “social butterfly”. Berbeda sekali denganku, dia tidak butuh usaha lebih untuk menjalin komunkasi dengan banyak orang, karena dia akan langsung diterima dengan senang hati. Karena dia cantik. Tidak perlu mengemis perhatian pada orang-orang, karena mata semua orang akan tertuju padanya. Seadainya aku jadi Tania, pasti aku akan bahagia. Disanjung-sanjung banyak orang, diperhatikan, dipuji, dicaricari, dan tentunya dicintai. Berbeda denganku saat ini, gadis biasa saja dengan kecantikan standar yang tidak terlalu dianggap kehadirannya. Aku harus berusaha lebih untuk sekedar mendapat perhatian dengan lawan bicara. Apakah aku setidak menarik itu?  

    Tak berselang lama, aku betegur sapa dengan Salma, gadis cantik dengan fashion sylish. “Senyum Kaniyaa!” Sapanya. Segera kubuyarkan lamunanku dan kubalas sapaannya dengan menebar senyuman lebar dengan terkekeh kutunjukkan gigi-gigiku. “Tidak semudah itu!!”, batinku. Segera masuk kelas, seakan membuntuti Salma yang berjalan menuju tempat duduknya, sembari menghitung dan menerka-nerka, mana lagi barang Salma yang baru. Cardigan krem dengan tas abu-abu yang dari bahannya saja sudah terlihat mahal. Parfum semerbak yang tak hilang-hilang dari tadi. Oh ya lupa! Sepatu putihnya tadi, masih beberapa hari lalu dipakainya ke sekolah. Pasti baru lagi. “Kapan ya aku bisa beli itu semua?” Kembali meratapi nasib buruk yang rasa-rasanya tak berhenti aku rasakan.  

    Duduk di bangku. Bertegur sapai dengan Bintang, seorang teman yang mungkin paling banyak tahu tentang peliknya masalah hidupku. Melihatku murung sudah cukup memberinya sinyal untuk tidak banyak mengajakku berbicara. Seperlunya saja. Jam pertama Bahasa Indonesia, masih cukup bisa diterima oleh otakkku di pagi ini. Melalui dua jam pertama di sekolah dengan biasa saja, aku masih bisa mentolerir rasa bosan. Jam kedua Fisika. Arrghhhh mimpi buruk. Ini yang aku takutkan. Aku adalah anak MIPA yang tidak tahu apa-apa. “Kanapa kau memilih MIPA? Kenapa tidak IPS? Kenapa aku sebodoh ini untuk memilih jurusan?” Kubuyarkan lagi penyesalan yang terus menerus datang. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Malu rasanya terus bertanya dengan bangku belakangku. Pura-pura mengangguk pada hal yang sbenarnya tidak aku pahami, menghadap ke depan lagi, berusaha menggoreskan beberapa tulisan angka, lalu kembali menengok ke balakang, bertanya, mengangguk lagi, terus-menerus begitu. Namanya Aqyla. Teman sekelas yang bangkunya tepat di belakangku. Lagi-lagi aku iri padanya. Iri dengan segala kebahagiaan yang dia miliki. Kecantikan, keharmonisan keluarga, dan kepintarannya. Aku berpikir, kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Kenapa aku sebodoh ini? Apakah kapasitas otakku hanya sebatas ini? Kenapa banyak orang salah satunya Aqyla tidak perlu banyak berusaha untuk menjawab satu soal Fisika, Matematika, dan Kimia? Kenapa kau tidak bisa? Kenapa aku sebodoh ini? 

    Setelah mellaui beberapa jam pelajaran dengan helaan nafas yang berulang-ulang, sampai teman sebangkuku, Bintang bergumam, “Kamu tuh kenapa sih Niya?” Aku sedikit terkaget, menegapkan kembali punggungku yang selama beberapa saat kebelakang terus kubungkukkan tidak ada semangat. Sepertinya sikapku pagi ini cukup membuat Bintang tidak nyaman. Aku yang biasanya ceria, selalu menyapa orang-orang yang kukenal, aktif mencari topik pembicaraan, pagi ini sangat berbeda dengan hanya mengucap beberapa kata yang memang diperlukan. Segera kujawab sambil menata kembali caraku duduk. “Hah? Kenapa? Nggak papa.” Kataku sudah jelas-jelas berbohong. “ihh, kenapa, ngomong aja, kamu kenapa?” Respon Bintang menandakan dia sudah tahu jika aku sedang tidak baik-baik saja. “Nggak papa sih, cuma abis nangis aja.” Jawabku jujur. “Iya tau kok dari matamu, tapi alesannya kenapa?” 

Jawab Bintang. “Yahh, kayak biasa.” Jawabku singkat, tidak berani menatap Bintang. “Ohh. Semanagat ya!” ucap bintang dengan senyum tipisnya yang terlihat lelah dengan sikapku akhirakhir ini. “Makasih…” ucapku singkat 

    Setelah makan bekal dijam istirahat, berbincang sedikit dengan teman-teman. Mendengar betapa mudahnya mereka bermimpi tenteng dunia perkuliahan mereka. Satu hal yang aku bisa simpulkan dari mereka, tidak punya beban. Mendengar cerita mereka sebenarnya cukup membuat dadaku sesak, lalu tak terasa mataku juga berair. Kuusap secara halus, agar mereka tidak tahu. “Kenapa aku tidak seberuntung mereka? Kenapa kau tidak sebagahagia mereka? Kenapa aku tidak seperti mereka yang bisa dengan mudahnya menyususn rencana dan menggapai keinginan mereka? Kenapa aku harus menelan kenyataan bahwa aku tidak punya apa-apa?” Di tengah lamunan dengan pikiran  yang mengenaskan, buyar karena salah astu pertanyaan yang tertuju padaku.  

“Kalo kamu mau kemana Niya?” Tanya salah satu teman bernama Zulfan 

“jangan tanya itu!!” Jeritku dalam hati. Bergegas kujawab, “belum tau, masih bingung 

hehe.” 

“Bingung gimana? Tinggal beberapa bulan lagi lo? Kamu mau kuliah kan? Cepet gih pilihpilih kampus,” tambah seorang teman bernama Rian menanggapi jawabanku. 

“iya.” jawabku singkat ingin segera menyudahi perbincangan. Sekaan alarm yang berdering, aku kembali teringat derita-derita mengerikan yang selama ini aku takutkan. Meratapi kembali, betapa menyedihkannya diriku, ketika tidak bisa ikut membicarkaan tentuang dunia perkuliahan impian dengan teman-temanku karena aku masih ragu, apakah aku bisa kuliah nantinya. “Siapa yang akan membiayainya? Akan seperti apa hidupku saat kuliah? Akan semenyihkan apa? Siapa yang akan menolongku? Dapat uang dari mana? Diama aku kuliah? Apakah aku bisa memperjuangkan dan meraih univeristas impianku? Apakah aku bisa? Apakah aku akan tetapi hidup?” 

    Rasanya diri ini sudah tidak kuat menahan segalanya. Aku rasa aku menjadi orang paling tidak beruntung di dunia. Aku hanya berperan sebagai penonton dan pemeran cadangan. Dalam hidup ini aku tidak pernah benar-benar menjadi tokoh utama. Menonton bagaimana orang lain disanjung-sanjung karena kecantikannya, lalu menyadari betapa menyedihkannya diriku dengan wajah pas-pas an, berhias kantung mata dan tahi lalat di pipi sebelah kiri. Bocah dekil dengan skill komunikasi yang tidak begitu bagus, bocah kecil dengan perawakan berisi yang mungkin kurang menarik bahkan untuk sekedar dijadikan teman berbincang. Memandang teman-teman dengan fashion kekinian, parfum wangi semerbak, aksesoris lengkap, dan barang serba bagus. Sedangkan diriku, yang mungkin butuh waktu berhari-hari atau bahkan berbulanbulan untuk sekedar mempunyai satu outfit andalan, lalu merasa gagal karena bentuk tubuh yang kurang ideal, berlanjut pada ketidakpercayaan diri yang kembali menghantui, dan berakhir memakai pakaian seadanya yang paling nyaman. Mendengarkan ketika teman-teman dengan segala kebahagiannya menceritakan tentang kesempurnaan keluarganya, tentang betapa baik ibunya dan betapa penyayang ayahnya. Tapi aku? Hanya seorang anak yang selalu merasa bersalah kepada orang tuanya. Merasa tidak berguna karena hanya bisa meminta. Tersenyum pahit ketika teman-teman menceritakan impiannya, bagiamana masa depannya, dunia perkuliahan dan semua tetek bengeknya. Sedangkan aku? Boro-boro kuliah, apakah aku diberi kesempatan untuk bermimpi? 

    Aku sudah tidak tahan dengan semua ini. tidak ada gunanya hidup. Lebih baik mati. Itu keinginanku selama ini. Tapi bocah kecil piyik ini tidak cukup berani untuk mengakhiri segalanya. Memang, bocah ini pengecut. Aku pengecut. Aku pengecut karena tidak berani mengakui bahkan kepada diri sendiri bahwa aku mempunyai mimpi besar, jauh lebih besar dibandingkan dengan mimpi teman-temannya. Tapi apa daya, keadaan tidak berpihak denganku. Hidup di tengah-tengah keluarga yang bisa dikatakan serba kekurangan, rasanya tidak mungkin untuk bersikap egois dan meninggalkan keluargaku untuk mengejar apa yang memang aku impi-impikan. Aku pengecut, memang pengecut karena tidak berani untuk berkata bahwa sebenarnya aku juga ingin kuliah. Mengenyam pendidikan, menambah wawasan, berkembang, dan meningkatkan kualitas diri melalui dunia perkuliahan. Sebenarnya aku sudah mempunyai rencana yang matang, namun naas aku tidak berdaya dengan keadaan.  

“Apa kekuatanku? Apa yang bisa aku andalkan? Kecantikan? Aku jauh dari kata cantik. Kepintaran? Aku tidak sepintar mereka. Kekayaan? Itu hanyalah khayalan. Lalu apa? Apa lagi? Sudah tidak ada gunanya.” Setelah bergulat dengan peliknya masalah dimeriahkan dengan derasnya air mata yang tidak kunjung berhenti dari pelupuk mata, ceklek… ada Bapak. Kaget, mungkin. Melihatku, pipiku, wajahku yang sudah acak-acakan. Deg. Aku katahuan. Selama ini aku menyembunyikan rasa sakit ini kecuali pada satu temanku, yaitu Bintang. Masih dengan ekspresi kaget, Bapak menghampiriku. Mengelus punggungku. Lekas bertanya,  

“kenapa?” belum mulai kujawab, Bapak meneruskan,  

“beberapa bulan terakhir ini, kamu kok mengurung diri? Menghindar kalau diajak bicara, kenapa? Terus sekarang kamu nagis di kamar sendirian. Kenapa?” Pertanyaan yang selama ini sangat kuhindari.  

“Berat pak. Niya udah nggak kuat. Niya nggak punya apa-apa. Nggak punya siapa-siapa. Capek.” Jawabku dengan nada lelah.  

“Coba cerita ke Bapak, Bapak pengen tau.” 

“Pak, sebentar lagi Kaniya lulus. Temen-temen Niya semua kuliah Pak. Niya juga pengen kuliah, tapi nggak bisa.” Jawabku, belum selesai. 

“Kenapa nggak bisa? Kata siapa?” Bapak memotong penjelasanku 

“Pak, kalaupun  Niya kuliah, emang Bapak nggak berat? Bapak masih punya Mbak Zara yang harus tetep dibiayai kuliahnya. Bapak masih punya Ovi yang masih kecil. Berat Pak. Lagian kalau aku mau cari beasiswa, aku merasa aku tidak cukup pintar.” Jelasku 

“Nak, kamu harus tetep kuliah. Buktikan kepada orang-orang kalau kamu bisa dan pantas. Soal biaya, Bapak usahakan. Beasiswa… itu bukan hanya kepada orang pintar, tetapi kepada orang yang mau berusaha.” Jawab Bapak sedikit menenangkan 

“Kaniya, kalau kamu memang punya tekad yang kuat, mentalmu juga harus kuat, fisikmu harus lebih kuat. Berusahalah semaksimal mungkin dan semampu yang kamu bisa. Bapak sadar, Bapak memang tidak cukup membantu dalam setiap langkahmu, tapi doa Bapak, setiap saat mengiringimu. Setiap tetesan keringat Bapak itu demi kamu Nak. Jika kamu ingin hasil lebih dari orang lain, usahamu juga harus lebih dari orang lain.” Bapak menahan tangis. Aku membaca perasaan bersalah di raut wajahnya. 

“Pak, aku akan membuktikan kepada orang-orang bahwa anakmulah yang akan menjadi anak paling berhasil, anak yang paling sukses, dan membawa Bapak pada kebahagiaan.” Jawabku sambil menggenggam tangan Bapak erat. 

     Pagi sudah datang, aku pergi ke sekolah dengan semangat yang berbeda dibanding  biasanya. Masih terganggu dengan nasib baik orang-orang. Menceritakan apa yang terjadi semalam pada Bintang. Ada dua nasihat yang paling kuingat. “Keputusan dan kebahagiaanmu sepenuhnya adalah tanggung jawabmu. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas apa yang kamu hadapi. Hidup tidak selamanya tentangmu. Tuhan sudah pasti mengerti porsi setiap umatnya. Dan kamu pilihan-Nya.” Lalu, yang kedua, “Ayo! Berjuang bersama, jalani, syukuri nikmati. Hidup memang menyeramkan. Mati? Jangan.”  



Selesai     





Informasi Singkat 

Penulis: Merisa Rahayuningtyas 

- IG: @merisarahayuu  

Komentar