Romantisasi Diri Sebagai Gen Z yang Dianggap Lemah

 

Romantisasi Diri Sebagai Gen Z yang Dianggap Lemah

Merisa Rahayuningtyas

Anak jaman sekarang mentalnya lemah, lembek, dikit-dikit healing. STRATWBERRY GENERATION!” begitulah  kira-kira kalimat yang akhr-akhir ini sering menjadi perdebatan utamanya di media sosial. Perdebatan ini lebih sering melibatkan milenial dengan gen z. Kira-kira kenapa demikian? Hal ini tak lain dan tak bukan karena maraknya fenomena dimana gen z dinilai memiliki mental yang lemah, ditandai dengan maraknya gangguan  mental yang diderita oleh pemuda dengan rentan usia 16 sampai 30 yang masuk dalam kategori gen z. Topik ini kerap kali menjadi bahan perbincangan dan perdebatan di berbagai media sosial baik itu TikTok, Twitter dan Instagram.

Gangguan mental adalah kondisi dimana emosi, pikiran, perasaan, perilaku dan suasana hati sedang tidak sehat atau tidak bekerja seperti pada umumnya. Gangguan mental juga terpecah oleh banyak jenis penyakit atau keluhan, seperti depresi, bipolar, panic attack dan axienty atau gangguan kecemasan. Faktanya di seluruh dunia menurut data WHO   pada tahun 2012 saja penderita gangguan mental sebesar sebesar 450 juta jiwa. Informasi dari Forbes menyatakan bahwa selama pandemi Covid-19 penderita gangguan mental juga meningkat, dengan penderita terbanyak berupa depresi di angka 246 juta dan anxiety sebanyak 374 juta. Fakta lain menurut data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami gangguan mental.

Data tersebut sudah cukup membuktikan bahwa memang benar gangguan mental banyak diderita oleh anak muda. Hal inilah mungkin yang menjadi sorotan dan menimbulkan kekhawatiran dari generasi-generasi terdahulu utamanya generasi milenial terkait kemampuan pemuda dalam menciptakan Indonesia emas 2045.  Namun apakah dengan fakta ini kemudian memvalidasi sebutan bahwa “anak muda jaman sekarang lemah”? Bukankah kita harus mengetahui terlebih dahulu seluk beluknya untuk kemudian menghakimi atau bahkan memberi solusi?

Cukup menyedihkan mengingat fakta di Indonesia banyak yang mencemooh anak muda dengan embel-embel banyak menderita gangguan mental karena mereka lemah. Kebanyakan dari mereka ialah gen millenial ke atas, dimana mereka merasa bahwa anak muda jaman sekarang terlalu membesar-besarkan masalah dan mendramatisasi kejadian dalam hidup mereka sehingga  rentan stres, depresi atau penyakit semacamnya. Atau bahakan mereka-mereka yang mencemooh keadaan mental anak muda ini beranggapan bahwa gen z sedang berlomba-lomba untuk mengakui bahwa dirinya terkana gangguan mental karena dianggap keren. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Kerena banyak dari kalangan gen z yang mendiagnosis dirinya sendiri terkena gangguan mental tanpa adanya pemeriksaan dokter. Namun juga tidak sepenunya benar karena kebanyakan dari mereka bahkan sudah menerima surat dari dokter dan rutin untuk berobat ke psikiater untuk meyembuhkan mental mereka.

Sebenarnya apa yang terjadi pada anak muda? Kenapa mereka cenderung bermental lemah? Kenapa mereka lebih rentan terkena gangguan mental daripada generasi sebelumnya? Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk didalami agar masyarakat bisa saling memahami tanpa menghakimi. Dari data yang telah dijabarkan di paragraf sebelumnya memang benar yang terjadi pada anak muda khusunya gen z ialah kecendurungan atau kerentanan mereka terkena gangguan mental. Selanjutnya alasan kerentanan ini yang perlu kita analisis. Apa yang sedang marak saat ini? Apa yang jauh lebih dominan digunakana daripada generasi sebelumnya? Jawabannya ialah sosial media. Saat ini sosial media sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Jika beberapa tahun yang lalu media sosial hanya digunakan sebagai media komunikasi yang masih sebatas mengunggah momen hidup, chat dan telepon.  Sedangkan saat ini fungsi media sosial sudah jauh berkembang. Sosial media sekarang berfungsi untuk komunikasi bisnis, membangun personal branding, meningkatkan eksistensi, sarana belajar atau bahkan untuk ladang pekerjaan dan mendapatkan cuan. Dengan semakin meluasnya fungsi media sosial sejalan dengan banyaknya macam konten yang beredar, hal inilah yang menyebabkan anak muda rentan terkena gangguan mental. Karena mereka banyak mengkonsumsi informasi-informasi secara berlebihan dan tidak seharusnya mereka konsumsi. Contohnya ialah pronografi, konten flexing, dan masih banyak lagi. 

Sebagai anak muda tentunya juga harus sadar tentang seberapa bahayanya pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental untuk keberlanjutan hidup dan untuk masa depan mereka. Anak muda sudah seharusnya belajar mengenai bagaimana cara mengindari gangguan mental, mengontrol diri dalam bersosial media sebagai salah satu penyebab terbesar gangguan mental, dan mengatasai gangguan mental. Hal dasar yang harus diketahui ialah pencegahan gangguan mental. Upaya ini bisa dilakukan dengan perilaku jeli dalam mneyaring konten yang masuk dalam media sosial.

            Langkah selanjutnya yang penting untuk dilakukan ialah self love. Dengan banyaknya konten yang tersebar di media sosial, dimana banyak dari mereka membagikan momen kebahagiaan,  kerap membuat anak muda struggle dengan merasa tidak seberuntung orang-orang, mersakan ketidakadilan dunia, sedih berlebih karena melihat kebahagiaan yang kerap kali orang bagikan. Dengan begitu, anak muda harus belajar mengenai romantisasi diri. Dimana hal ini bisa dilakukan dengan meromantisasi dan mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup. Menyayangi dan memperlakukan diri sendiri dengan baik. Selalu berusaha untuk memahami emosi yang ada dalam hati. Menghabiskan waktu bersama diri sendiri dengan tenang dan bahagia. Merayakan setiap pencapaian kecil yang telah mereka lakukan dengan memberi afirmasi positif, karena jika tidak ada orang-orang yang membersamainya, kaum muda harus sadar bahwa minimal dirinya sendirilah yang harus menemani, mengerti dan mencintai diri sendiri.

Mencintai diri sendiri akan memperkuat pertahanan mental dari penyakit-penyakit yang bisa menyerang. Pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi gen z di jaman yang terus berkembang juga harus dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya. Dengan dua hal dasar ini yaitu penanaman self love kepada gen z dan pemahaman mengenai dunia yang dirasakan gen z seharusnya cukup bisa membangun lingkungan positif dan suportif utamanya bagi milenial dan gen z.

 

 

 

SUMBER

 

https://www.forbes.com/health/mind/mental-health-statistics/

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2224/definisi-gangguan-jiwa-dan-jenis-jenisnya

https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/

 

Komentar