Plepah: Buah Keresahan dan Kegigihan Rengkuh Banyu Mahandaru untuk Menciptakan Wadah Makanan Ramah Lingkunga
Oleh: Merisa Rahayuningtyas
Sumber:
Plepah Indonesia
Siapa sangka
pelepah pinang bisa menjadi sesuatu yang bernilai jual? Siapa sangka pelepah
pinang bisa membantu perekonomian masyarakat? Siapa yang mengira pelepah pinang
bisa berkontribusi dalam mengatasi masalah sampah di Indonesia atau bahkan luar
negeri? Ialah Rengkuh Banyu Mahandaru, pria yang lahir di Garut pada 26 Juli
1991 yang telah menginisiasi perusahaan rintisan Plepah.id.
Apa itu Plepah Indonesia?
Sumber: Plepah
Indonesia
Plepah ialah sebuah organisasi multidisiplin yang berfokus pada pemberdayaan
masyarakat untuk menciptakan produk inovatif guna mengatasi masalah sosial yang kompleks
dalam berbagai sektor. Terdiri dari desainer, insinyur, ilmuan, peneliti,
pengembang bisnis dan pengembang
komunitas, Plepah menginisiasi perubahan jangka panjang dan berkelanjutan
dengan mengembangkan ide-ide dan terus berinovasi untuk menghasilkan solusi dalam
menciptakan produk keberlanjutan bagi masyarakat. Harapan dari Plepah sendiri ialah bisa
memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan berupa
konsep keberlanjutan (sustainable)
dari produknya. Saat ini produk inovasi yang dihasilkan Plepah ialah beruapa
wadah makananan yang berbahan dasar
pelepah pinang.
Latar Belakang Munculnya Plepah sebagai Buah
Keresahan Co-founder
dan CEO Rengkuh Banyu Mahandaru
Sumber: Instagram @plepah_id
Inovasi ini bermula dari keresahan Rengkuh selaku Co-Founder dan CEO yang
menyadari betapa banyak sampah yang dihasilkan dari segela kegiatan manusia
sehari-hari, sesederhana membeli makan di warung.
’’Sekarang
bayangkan pesan pecel ayam. Nasinya, ayamnya, lalapannya, sampai sambalnya
dibungkus plastik masing-masing,’’begitulah tutur Rengkuh September lalu pada suatu acara di
Universitas Multimedia Nusantara (Jawapos.com). Di kesempatan lain, tepatnya di
acara Kick Off 15th SATU Indonesia Awards 2024 Rengkuh juga
mengatakan bahwa, usaha Plepah ini dimulai pada tahun 2018 saat ia masih
bekerja nine to five di sebuah
perusahaan, sehingga mengharuskan ia untuk memesan makanan di setiap jam
makan. Ia menyadari bahwa hanya dengan memesan satu jenis makanan saja, ia
sudah mendapatkan 3 packaging yang berbahan stryrofoam.
Pikiran itulah yang mengantarkan Rengkuh untuk mulai mengubah pola hidupnya dan
mulai menjelajah ke sejumlah daerah baik di dalam maupun luar negeri untuk
melihat, mengamati dan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan melihat
langsung bagaimana dinamika penggunakan sampah plastik atau sampah yang tidak
bisa didaur ulang dalam kegitan sehari-hari.
Sumber: Instagram @plepah_id
Diketahui sebelum mendirikan Plepah
Rengkuh bekerja di sebuah industri desain yang beroperasi di Jakarta setelah
lulus menempuh pendidikan tinggi S-1 di ITB dengan jurusan
Desain Produk di Fakultas Seni Rupa dan Desain (2008-2013). Ia juga meneruskan studinya dengan
mengambil Program Studi Bisnis Manajemen Sekolah Bisnis Manajemen ITB (2015 -2017).
Setelah lulus S2, Rengkuh resign dari
industri desain dan diterima menjadi staf ahli Badan
Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk bidang penguatan kreativitas. Ia ditempatkan di
Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Di pekerjaan ini di mengemban tanggung jawab untuk
proses pengembangan daerah wisata selam yang ada di Wakatobi. Dalam menjalani
pekerjaannya, Rengkuh lagi-lagi sadar betapa kawasan pantai dan laut Wakatobi
dipenuhi oleh sampah plastik. Dari kesadaran itu dia kerap mengedukasi dan
mengajak masyarakat untuk tidak membuang plastik di laut. Dari kegiatan ini,
mulai tumbuh keinginan Rengkuh untuk mengembangkan sebuah komunitas yang
berfokus pada keberlanjutan lingkungan hidup. Setelah bekerja di Bekraf, pada
tahun 2018 Rengkuh menerima tawaran kerja koroporasi dari Inggris untuk bekerja
di bidang pengembangan komunitas dan masyarakat pinggir hutan. Ia lalu
ditempatkan di kawasan Jambi dan Sumatera Selatan. Di sana ia ditugaskan untuk
mencegah perambahan hutan untuk
menghindari konflik dengan hariamau.
Dari
sinilah semua berasal. Melalui tugas ini dia menyadari latar belakang apa yang
mendorong perambahan hutan oleh masyarakat. Tak lain dan tak bukan ialah kebutuhan
ekonomi. Bersumber dari cara berpikir desain sesuai dengan apa yang ia tekuni
dan pelajari semasa berkuliah, Rengkuh mulai melihat potensi sumber daya yang
ada untuk diolah dan menghasilkan pundi-pundi rupiah, salah satunya ialah
pelepah pinang.
Pada
waktu itu, kantor tempat Rengkuh bekerja memberinya kesempatan untuk
mempelajari sistem pengembangan masyarakat ke Inggris dan India. Selama satu
bulan di Inggris pada Juli 2018 ia mempelajari tentang pengembangan sistem
pengolahan limbah domestik yang sudah memiliki sistem yang cukup baik. Lalu, ia
bertolak ke Jaipur, India pada September sampai November 2018. Di sana ia
mengamati bagaimana masyarakat Jaipur menggunakan piring dan mangkuk dari
dedaunan untuk wadah makanan. Pada titik itulah Rengkuh teguh dan yakin untuk
tetap menjadi desainer produk dan memulai langkah untuk membangun usaha dengan
orientasi utama pada pengembangan komunitas guna perbaikan dan pelestarian
alam.
Pohon
pinang rata-rata tumbuh dengan kepadatan 1.300 pohon per hektar. Di Sumatera saja, ada lebih dari 150.000
hektar kebun Pinang. Riset juga mengatakan bahwa potensi cukup besar pohon
pinang juga berada di Papua dan NTT dimana pelepah pinang masih dianggap limbah
bertanian biasa dan tidak bernilai jual. Pelepah pinang umumnya hanya dibuang
atau dibakar, utamanya pada saat musin hujan kerena bisa menjadi sarang nyamuk.
Dari sini Rengkuh melihat potensi
besar yang ada pada limbah pelepah pinang, dan berinisiasi untuk mendayagunakan
pelepah pianang untuk menjadi suatu inovasi produk berkelanjutan yang
berkontribusi dalam menyelamatkan alam.
Kisah Berdirinya Plepah
Sumber: Plepah Indonesia
Desember 2018 ialah awal mula
berdirinya Plepah. Inovasi ini dimulai di Sumatera Selatan tepatnya bermula di Desa Teluk Kulbi, Kabupaten
Tanjung Jabung Barat, Jambi dan Desa Mendis, Kabupaten Musi Banyuasin. Rngkuh membangun
kelompok tani dengan mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga dan membangun koperasi.
Inklusifitas adalah target yang ingin dicapai oleh Plepah,
dengan mengedepankan keterlibatan kelompok perempuan. Rengkuh mencoba
mengedukasi masyarakat mengenai meterial hilirisaasi, dan mensosialisasikan betapa
plastik menjadi material utama kemasan di perkotaan dan dampaknya pada
lingkungan.
Sumber: Instagram @plepah_id
Rengkuh bersama tim mulai
memperkenalkan warga kepada teknologi pengepresan agar pohon pinang bisa diolah
dan diproses dalam berbagai bentuk wadah makanan. Para petani setempat menyambut
baik inovasi ini, lantaran pelepah pinang yang awalnya tidak berharga sama
sekali dan hanya menjadi sampah pertanian kini bisa terjual hingga Rp. 2000 per
kg
Dengan sistem
koperasi yang telah dibentuk, rata-rata petani bisa mendapatkan penghasilan
mencapai Rp
1,5 juta–Rp 3 juta setiap bulannya hanya dari pelepah pohon pinang yang mereka
kumpulkan. Jumlah ini tentu sangat lumayan untuk menunjang dan membantu para
petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Hingga saat ini Plepah
sudah melibatkan 3.176 petani dan mencakup 854 KK.
Produk Plepah beruapa kontainer atau wadah makanan dari pelepah pinang
ini ditujukan untuk menggantikan stryrofoam
dan plastik sebagai kemasan sekali pakai yang marak sekali digunakan. Teknologi
pengolahan pelepah pinang menjadi wadah makanan dinilai lebih sederhana dan
cepat dibandingkan dengan pembuatan piring dan mangkuk dedaunan seperti di
Jaipur, karena piring dan mangkok di sana perlu penjahitan sehingga pengerjaanya lebih
lama.
Atas dukungan dana dari BNI Ventures serta Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN), akhirnya pada tahun 2022 Rengkuh berhasil mendirikan unit
produksi kemasan makanan dari pelepah pinang yang cukup besar berlokasi di
Cibinong, Jawa Barat. Kapasitas produksinya mencapai 160.000 potong
kemasan per bulan dengan pasar utama yang mencapai
angka 80 persen ialah ekspor ke luar negeri.
Rengkuh menyebutkan, dengan data sebaran tumbuhan pinang di Sumatera
yang cukup besar, sejauh ini Plepah masih memasok dari Wilayah Jambi dan
Sumatera Selatan saja. Ia juga menambahkan bahwa Indonesia Timur masih
menyimpah cadangan bahan baku pelepang pinang berikutnya.
Di awal perjalanan Plepah dengan produk berupa kemasan atau wadah
makanan atau yang juga disebut food
container ramah lingkungan dari pelepah pinang dijual Rp 2.000-4.000 sebiji berupa piring, mangkok
dan kontainer makanan yang sudah dilengkapi dengan tutupnya, Rengkuh sempat
menjual produknya ke pasar tradisional. Tetapi terdapat kendala harga jual,
dimana produk Plepah dinilai memiliki harga jual yang cenderung tinggi
dibandingkan produk lain di pasaran. Menghadapi masalah ini, Rengkuh tidak
menyerah. Sejak awal dia berprinsip untuk tetap menjual harga produknya secara
kompetitif, tidak seperti usaha rintisan lain yang cenderung mengorbankan
pendapatan riil dan memainkan valuasi untuk bisa bersaing di pasar. Di berpendapat
bahwa finansial usaha rintisan harus dibangun secara sehat.
Sumber: Plepah Indonesia
Karena penjualan lokal tidak begitu
banyak, akhirnya Rengkuh memasarkan produk Plepah ke luar negeri. Rengkuh
menjelaskan dari kapasitas produksi 120.000 pcs per bulan, demand terbesar berasal dari luar negeri. Jika di luar negeri
produk Plepah bisa dihargai lebih, yaitu mencapai Rp 3.500–Rp 5.000 per biji.
Berbeda dengan harga jual produk dalam negeri yang rata-rata hanya mencapai
2.000 per biji. Meskipun fakta ini menguntungkan Plepah sebagai usaha rintisan
baru, namun di satu sisi juga membuat Rengkuh sebagai penginisiasi ide Plepah
sedih, karena minimnya permintaan dalam negeri mengindikasikan sedikitnya minat
atau perhatian pada kepedulian lingkungan utamanya terkait sampah plastik.
Pemasaran lokal biasanya dikirimkan
ke hotel atau restoran di beberapa kota besar yang sudah menaruh perhatian pada
produk ramah lingkungan. Sedangkan untuk pemasaran internasional ada beberapa
negara. contohnya ialah Jepang. Tim Plepah mengirim satu kontainer dengan
muatan 240.000 pcs, yang dikirim berdasarkan oder atau pesanan. Negara lain
yang juga menjadi sasaran pendistribusian ialah Australlia.
Pembuatan Produk Plepah
Kriteria
pelepah pinang yang akan diproses menjadi produk food container ialah pelepah kering yang cukup lebar, bersih dan
tidak berjamur. Pelepah-pelepah yang telah dikumpulkan, dipiliah, lalu dipotong
per 40 cm, dijemur, kemudian dikemas dan diikat untuk selanjutnya disetor ke
koperasi atau Tim Plepah.
Proses pembersihan pelepah pinang (Sumber: Plepah Indonesia) |
|||
Proses pencetakan pelepah pinang (Sumber:
Plepah Indonesia)
Pada
awal pendirian Plepah, tim hanya mampu memproduksi 500 pcs per bulan. Proses
produksi pada masa awal pendirian juga diiringi dengan riset dan pengembangan
agar food container yang dihasilkan
telah mantap dan layak dipasarkan. Kini, di tahun 2024 Plepah sudah bisa meraup
omset miliaran dengan produksi ribuan kontainer per bulan.
Capaian Plepah
Berdasarkan
penuturan dari Rengkuh, dari 2018 sampai sekarang Plepah sudah mempunyai 3
titik produksi. Yakni, di Sumatera Selatan dan Jambi. Ada juga riset dan
pengembangan di Cibinong - Bogor.
Usaha Plepah
ini menjadi angin segar bagi para petani, karena pelepah pinang yang mulanya
tidak bernilai jual bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi mereka. Plepah
mampu memberdayakan masyarakat dan petani setempat, membantu perekonomian masyarakat,
mengurangi limbah, dan ikut serta dalam menjaga kelesatian bumi melalui food container ramah lingkungan baik di
dalam dan di luar negeri.
Produk Plepah memiliki berbagai
keunggulan, yaitu:
-
Produk 100 persen
natural dari alam
-
Sudah food grade
-
Dapat dengan cepat
terurai dengan tanah, hanya dalam 60 hari (Biodegradable dan compostable)
-
Kokoh
dan tentunya tahan air
-
Tahan
panas hingga suhu 200 derajat celcus, sehingga bisa digunakan untuk di oven
maupun microwave
-
Dapat
digunakan beberapa kali untuk makanan kering
-
Terlihat lebih
artistik, dengan warna alami dari pelepah yang bervariasi baik warna maupun
corak
Pada
april 2023, Rengkuh berkesempatan untuk pameran di Jerman. Dari sanalah mulai
banyak muncul permintaan untuk produk luar negeri. Namun sayangnya masih banyak
regulasi yang menjadi kesulitan bagi Plepah untuk mengepakkan sayapnya lebih
luas.
Meskipun
begitu Plepah tetap berhasil mengirimkan permintaan ke Australia. Melalui
perantara pengusaha Dubai yang datang ke Jakarta Plepah mampu memenuhi
permintaan Australia pada Noevember tahun lalu dan mengirim satu kontainer yang
berisi 150.000 potong kemasan. Rengkuh juga menbahkan bahwa untuk pengiriman
selanjutnya, akan di kirim berbentuk bahan mentah.
Kunjungan dari Wakil Menteri Menteri Sains, Teknologi, dan Kebijakan Inovasi Jepang, Hiroki Matsuo, ke pabrik Plepah di Cibinong (Sumber: Instagram @rengkuh_banyu)
Selain prestasi-prestasi di atas,
Plepah juga beberapa kali dikunjungi oleh orang-orang penting yang mendukung
dan mengapresiasi usaha plepah dalam menginisiasikan kemasan makanan ramah
lingkungan dan ikut andil dalam usaha menyelamatkan kelestarian alam. Beberapa di
antaranya ialah kunjungan dari Menteri Sains, Teknologi, dan Kebijakan Inovasi
Jepang, Hiroki Matsuo, ke pabrik kami di Cibinong bersama dengan tim untuk
mengawasi proses produksi dan implementasi R&D Plepah dalam proses inovasi
dan keramahan lingkungan. Plepah juga pernah dikunjungi oleh Sandiaga Uno
selaku Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia. Beliau bersama tim mendengarkan dan mengapresiasi ide Plepah,
juga memberi semangat untuk terus berinovasi dan memberikan soslusi bagi
masyarakat.
Kunjungan
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik
Indonesia (Sumber: Instagram @plepah_id)
Mengenal lebih dalam Rengkuh sebagai Inisiator
Plepah
Proses pembuatan Plepah (Sumber: Plepah
Indonesia)
Rengkuh ialah pemuda yang patut
dicontoh oleh generasi sekarang dan selanjutnya atas usahanya untuk menciptakan
inovasi ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik. Pria kelahiran 26 Juli
1991 ini sudah memiliki impian untuk membuat suatu produk yang bisa diterima di
semua kalangan dengan latar belakang desain yang ia tekuni selama masa
perkuliahan. Dalam salah satu wawancara ia menyebutkan bahwa ia ingin membuat
produk dengan analagi “tusuk gigi”, dimana semua orang bisa memakainya.
Rengkuh
ialah anak kedua dari dua
bersaudara, dengan Ayah yang bekerja di bawah Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, dan ibunya di bawah Kementerian Lingkungan Hidup. Semasa kecil ia sudah
dikesankan dengan hobi ayahya yaitu melukis pemandangan. Ia juga kerap
mengikuti sang ibu jalan-jalan ke hutan, sehingga membuat Rengkuh sangat dekat
dengan alam dan tumbuhlah keinginan untuk menjaga kelesteriannya.
Keinginan untuk turut serta dalam usaha
menjaga kelestarian alam salah satunya bermula ketika ia mengikuti ibunya ke
leren Gunung Guntur saat ia masih kelas dua atau tiga SD di Garut untuk
reboisaasi hutan gundul. Di situ, ia terkesan dengan ibunya yang ikut
memelopori penanaman kembali dan mengembangkan survei-survei tanah longsor di
hutan.
Saat memaski kelas 2 SMP, Rengkuh
mengikuti ayahnya ke Jakarta karena pindah kerja, dan ibunya memutuskan untuk berhenti bekerja
dari Kementerian Lingkungan Hidup dan bekerja di bidang usaha furnitur,
sehingga sejak saat hingga diterima kuliah di ITB itu mereka menetap di Bumi
Serpong Damai, Tangerang, Banten.
Rengkuh Banyu Mahandaru menerima penghargaan SATU Indonesia Award
(Sumber: Kompas.id)
Kisah ini
mengantarkan Rengkuh pada panggilan dan tekadnya untuk mendirikan Plepah
sebagai usahanya untuk menjaga kelestarian alam dan membentuk industri ramah
lingkungan, yaitu dengan menjadi inovator kemasan makanan dari pelepah pinang
dengan memberdayakan masyarakat sekaligus membantu perekonomian petani
setempat. Atas usaha inilah pada tahun 2023 lalu ia mendapat penghargaan SATU
Indonesia Award dari Astra atas perjuangannya dalam menyelematkan alam dengan
inovasi kemasan makanan dari pelepah pinang.
Plepah untuk Indonesia
Sumber: Instagram
@plepah_id
Rengkuh sangat berharap bisa memberikan dampak yang lebih
luas, salah satunya dengan memperbanyak titik produksi Plepah agar jumlah
kelompok masyarakat yang terlibat juga semakin banyak. Rengkuh bertekad untuk
terus melakukan pengembangan, mengusahakan inovasi dan mengeksplorasi potensi
lain dari sumber daya lokal agar bisa memberi dampak sampai tingkat global.
“Kita akan mengeksplor lebih
jauh potensi dari limbah pertanian. Hari ini orang mungkin tidak menilai ada
nilai lebihnya, tapi kami fokus memanfaatkan limbah ini diluar dari kemasan
makanan,” Begitulah ucap Rengkuh. “
Tekad Rengkuh dan segenap tim Plepah ialah hal yang benar-benar patut
untuk diapresiasi. Riset untuk mengembangkan suatu produk dari sampah pertanian
yang terbuang menjadi produk berkelanjutan yang bermafaat bagi masyarakat,
tidak hanya di Indonesia namun juga hingga manca negara bukan langkah yang
mudah untuk dilalui. Perjuangan mengedukasi masyarakat, memberdayakan penduduk
setempat, dan membantu para petani sudah selayaknya menjadi inspirasi utamanya
bagi generasi muda untuk berani dalam bertindak, berani mengejar impian, berani
berinovasi dan gigih dalam mengusahakan kebermanfaatan bagi masyarakat utamanya
bagi kelestarian alam.
Dari Plepah Menjadi Berkah Untuk
Masyarakat dan Untuk Alam.
Terimakasih Plepah
SUMBER REFERENSI
Arjanto, D. (2024, Agustus 15). Profil Rengkuh Banyu Mahandaru,
Inisiator Plepah Kenalkan Produk Kemasan dari Pelepah Pinang. Retrieved
November 6, 2024, from satu.tempo.co:
https://satu.tempo.co/ekonomi/profil-rengkuh-banyu-mahandaru-inisiator-plepah-kenalkan-produk-kemasan-dari-pelepah-pinang-25137
Kiki Safitri, E. D. (2024, Maret 5). Cerita Rengkuh Banyu
Mahandaru, Bangun Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan ‘Plepah’. Retrieved
November 6, 2024, from kompas.com:
https://money.kompas.com/read/2024/03/05/060700926/cerita-rengkuh-banyu-mahandaru-bangun-bisnis-kemasan-ramah-lingkungan-plepah-?page=all
SETIAWAN, H. (2024, November 1). Rengkuh Banyu Mahandaru
Berdayakan Petani Olah Limbah Pelepah Pinang jadi Kemasan Ramah Lingkungan,
Diekspor ke Australia-Jepan. Retrieved November 6, 2024, from jawapos.com:
https://www.jawapos.com/features/015264165/rengkuh-banyu-mahandaru-berdayakan-petani-olah-limbah-pelepah-pinang-jadi-kemasan-ramah-lingkungan-diekspor-ke-australia-jepang
TUNGGAL, I. N. (2024, April 15). Rengkuh Banyu Mahandaru
dan Analogi Tusuk Gigi. Retrieved November 6, 2024, from kompas.id: https://www.kompas.id/baca/tokoh/2024/04/11/rengkuh-banyu-mahandaru-dan-analogi-tusuk-gigi?open_from=Search_Result_Page%3Fstatus%3Dsukses_login&status_login=login&loc=hard_paywall
Profile Linkedin Rengkuh Banyu Mahandaru
Instagram @plepah_id
Instagram @rengkuh_banyu

Komentar
Posting Komentar